16 Desember, 2010

Dokter Kuda Bima


Secara genetik, kuda bima dari Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya tangguh sebagai hewan kerja, tahan pada cuaca panas, serta relatif jinak.

Meski demikian, sebagai kuda pacu, kuda bima kalah bersaing dengan kuda sumba dari Nusa Tenggara Timur yang postur tubuhnya lebih tinggi, kekar, dan berlari lebih cepat. Akibatnya, kuda bima hanya menjadi jago kandang dalam pertandingan tingkat lokal di Pulau Sumbawa. Kuda bima belum mampu ”bicara” pada tingkat regional ataupun nasional.

”Oleh karena itu, kuda lokal tetap dipertahankan untuk pertandingan di tingkat lokal. Sedangkan untuk pertandingan berskala regional dan nasional, kita menggunakan kuda hasil persilangan antara kuda bima dan sandalwood atau thoroughbred,” ujar H Adnan Abdullah, warga Kelurahan Bara, Kecamatan Rasana’e Barat, Kota Bima, NTB.

Masyarakat Bima, umumnya Pulau Sumbawa, memang mempunyai tradisi menggelar balapan kuda (pacoa jara, sebutan dalam bahasa lokal), enam kali dalam setahun, yaitu pada Februari, Mei, Juli, Agustus, Oktober, dan Desember.

Kegiatan itu digelar untuk berbagai kesempatan, misalnya guna meramaikan hari jadi Kota Bima, Kabupaten Bima, TNI, Polri, sejumlah badan usaha milik negara, di samping mengisi jadwal acara dari Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Bima.

Untuk itu, Adnan bisa dikatakan bekerja sendirian, mulai dari membeli kuda hingga pelosok pedesaan, termasuk melakukan kawin silang. Dia juga gemar bertanya tentang teknis reproduksi kepada petugas instansi terkait dan membaca banyak buku sebagai referensi.

Modal awalnya berupa lima kuda betina lokal, kemudian dia buatkan ”akta kelahirannya” setelah ditelusuri tanggal lahir, kepemilikan, hingga silsilah keturunannya. Rekam jejak kuda ini penting, terutama kuda lokal, guna menghindari persilangan kuda jantan dan betina yang dekat hubungan darahnya.

”Sama halnya dengan manusia, kuda pun jika kawin dengan keluarga dekat bisa melahirkan keturunan yang kurang sehat, fisiknya lemah, daya tahan tubuh lemah, dan tidak kuat lari,” tutur Adnan.

Kuda juara

Niat untuk itu muncul pada 2007. Adnan mengawalinya dengan menyilangkan kuda sumba miliknya, Liberty (pejantan), dengan kuda lokal (betina). Liberty yang sekarang berusia tiga tahun acap kali menang dan mengumpulkan hadiah sampai delapan sepeda motor.

Beberapa hasil persilangan dari tiga jenis kuda yang dilakukan Adnan itu ternyata melahirkan keturunan yang kekar fisiknya dan menjadi jagoan di kelasnya saat berlomba. Bahkan, kiprah Adnan dalam menghasilkan ”kuda bule” ini kemudian membuat Ketua Pordasi Bima ini dijuluki sebagai ”dokter kuda”.

Salah satu kuda itu bernama Ranggawuni. Kuda miliknya ini merupakan hasil kawin silang kuda lokal dengan sandalwood dan thoroughbred. Adnan bercerita, Ranggawuni ketika berusia setahun, kecepatan larinya mencapai 136 detik pada lintasan pacu sepanjang 1,22 kilometer atau lebih cepat ketimbang kuda lain yang kecepatan larinya rata-rata 139 detik untuk lintasan tersebut.

Sedangkan persilangan Liberty dengan kuda lokal telah menghasilkan tiga keturunan, dua di antaranya mengikuti warna bulu induknya (coklat bercampur krem) dengan tinggi 118-119 sentimeter. Seekor kuda lagi, dengan tinggi 120 cm, berwarna kelabu dan memiliki tanda khusus berupa bulu pusar pada punggungnya yang membentuk trisula. Tanda yang konon membawa berkah itu ”belum tentu ditemukan satu ekor dalam 1.000 kuda sekalipun”.

Bagi mereka yang ”gila kuda”, jangankan kuda yang punya tanda khusus, sekadar mengetahui silsilah keturunan hewan dari ”bibit unggul” saja berani memasang harga beli Rp 5 juta sejak orok kuda masih berusia enam bulan di dalam perut induknya.

Ular dan kotoran kuda

Berdasarkan pantauannya, Adnan yang juga mantan anggota DPRD Bima ini mampu ”mematahkan” teori bahwa gigi kuda tanggal setiap dua tahun sekali. Kenyataannya, ada kuda yang giginya tanggal saat berusia enam bulan atau sebelum umur 12 bulan.

Rupanya, pergantian gigi kuda itu lebih disebabkan lingkungan dan bahan pakan. Pasalnya, rumput yang hidup di daerah kering tentu lebih susah ditarik oleh gigi kuda. Ini tidak semudah kuda yang bisa mencopot rumput yang tumbuh pada daerah (tanah) basah.

Dari pergaulannya dengan kuda sedemikian lama, pemilik 60 kuda ini bercerita, belakangan dia juga mengetahui kalau ular ternyata takut pada cirit (kotoran) kuda.

Bahkan, saking akrabnya dengan kuda, Adnan seakan mengerti ”bahasa kuda”. Ia juga memiliki ”hubungan batin” dengan kuda-kuda yang dikandangkan di belakang rumahnya. Kuda-kuda itu berjingkrak-jingkrak manakala dia tengah merasa bersukacita. Sebaliknya, kuda-kuda itu meringkik panjang, seperti mengeluh, jika Adnan tengah menghadapi persoalan.

Terkait dengan pekerja untuk membantu dia, Adnan memilih sikap mengayomi. Dia menampung anak-anak putus sekolah yang ada di Bima ataupun mereka yang berasal dari Pulau Flores dan Sumba.

Para pemelihara kuda tersebut, kecuali mendapat bagian hadiah (seperti sepeda motor dan kulkas) jika kuda-kuda Adnan menang pertandingan, mereka juga dibiayai pendidikannya hingga perguruan tinggi.

Lebih dari 20 anak putus sekolah dia bantu mendapatkan pekerjaan tetap, seperti menjadi pegawai negeri sipil, petugas satpam, karyawan hotel, dan karyawan pompa bensin.

Sebagian dari mereka juga berlatih tinju di bawah bimbingan Daniel Bahari di sasana mini yang ada. Salah seorang anak didiknya, Yani Malahendo, berhasil tampil sebagai juara Intercontinental di kelas terbang pada 1986.

”Itu tabungan akhirat,” jawab Adnan tentang kepeduliannya kepada anak-anak putus sekolah tersebut.

sumber : cetak.kompas.com