wirausaha online

03 Maret, 2009

Nagabonar Soal Sistem Negara, Jantan Tidak Betina Tidak...

TEMPO Interaktif, Jakarta: Seakan ingin menunjukkan kali ini ia tak berkelakar seperti perannya dalam film: Nagabonar. Ia, yang selama ini hanya hidup di layar perak, menyatakan siap maju dalam pemilihan presiden, Juli mendatang. "Jenderal Nagabonar" Deddy Mizwar menggandeng calon wakil presiden seorang jenderal beneran, Mayor Jenderal TNI Saurip Kadi, mantan Asisten Teritorial Kepala Staf TNI Angkatan Darat.
Saurip lulusan terbaik ketiga di Angkatan 1973, sekaligus pemegang pedang kehormatan Adhi Makayasa di angkatan itu tak lain dari Susilo Bambang Yudhoyono. Saurip Kadi, asal Brebes, Jawa Tengah, dikenal sebagai perwira reformis. Pada 1998, ia menjadi anggota Tim Penyusun Konsep Reformasi Internal TNI, yang dipimpin Letnan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun sikapnya yang terlalu progresif justru membuatnya kehilangan semua jabatan pada 2000, bersama (almarhum) Letnan Jenderal Agus Wirahadikusumah. Tujuh setengah tahun menganggur sebagai perwira tinggi. Jumat pekan lalu, Deddy-Saurip mendeklarasikan diri di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tempo mewancarai Deddy di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur ketika berdiskusi dengan anggota tim suksesnya. “Sini, dengerin aja biar gue enggak repot. Nanti tinggal foto aja,” katanya sambil tertawa. Wawancara berlangsung persis pukul 00.00 dan berakhir pukul 03.00, Jumat pekan lalu. Deddy didampingi Saurip Kadi.

Apa yang membuat Anda mencalonkan diri sebagai presiden?
Kami terjun ke gelanggang lepas dari kepentingan kelompok dan golongan. Namanya memang tidak bisa lagi calon independen, harus melalui partai politik. Kami ingin menguji komitmen partai-partai politik yang saat ini belum memiliki calon presiden untuk kembali kepada fitrahnya sebagai manusia. Elite politik perlu secara tulus dan jujur memperbaiki keadaan bangsa ini.

Jadi, Anda tetap mengharapkan dukungan partai?
Saat ini banyak sekali partai kecil yang belum punya calon presiden. Kami tidak mau mendirikan partai seperti calon lain yang ingin jadi presiden. Untuk apa mendirikan partai kalau akhirnya membuat bingung? Justru kami ingin menggalang kekuatan, dan boleh dipastikan kami tidak akan membeli partai dengan uang. Kami membeli dengan konsep yang terukur dan komitmen. Jadi, kami siap bergabung dengan partai apa pun yang memiliki komitmen mengutamakan rakyat.

Banyak pesohor pernah mencoba menjadi presiden. Apa kelebihan Anda dibanding mereka?
Konsep. Saya bersama Mas Saurip, dengan gagasan-gagasannya, pengalaman-pengalamannya, pengetahuannya, akal sehatnya, mencoba merumuskan ke arah mana bangsa akan dibawa, dan yang penting: bagaimana caranya. Kita sudah harus meninggalkan budaya, slogan-slogan, yang meninabobokan selama ini. Kenyataannya jelas-jelas 40 juta warga Indonesia tetap di bawah garis kemiskinan. Nah, di pemilu ini, rakyat harus berani merevisi, mengoreksi keputusannya.

Anda kok jadi serius sekali?
Soal kayak gini harus serius. Tapi jangan dibikin berat, nanti stres.

Anda punya modal popularitas, tapi apa Anda punya kompetensi menjadi presiden?
Persyaratan yang baru Anda sebutkan tadi sekarang sudah dijalankan, tapi tidak menghasilkan apa-apa untuk menyejahterakan rakyat. Jadi, harus keluar dari kerangka berpikir itu. Out of the box. Presiden kan perlu kemampuan dan keterampilan politik, padahal Anda belum pernah berkecimpung di dunia politik? Pengetahuan politik itu kan segala substansi yang diciptakan manusia untuk mengubah kehidupannya jadi lebih baik? Belajar politik yang merusak dan penuh intrik tidak perlulah. Itu bisa merusak diri saya dan membuat banyak dosa. Ilmu politik kan pada awalnya diciptakan oleh orang-orang yang arif untuk membawa masyarakat kepada tatanan yang lebih baik.Tanpa pengalaman, bagaimana kalau nanti Anda diakali musuh politik atau menteri sendiri….Jangan berpikir begitulah. Berpikir yang baik, politik untuk kebaikan, bukan untuk mengakali. Paradigma tentang politik harus kita ubah. Politik itu bukan akal-akalan. Saya tidak mau mencemari diri saya. Pemimpin itu memegang teguh amanah, sidik, dan fatonah, sehingga bawahan pun tidak akan lain kecuali loyal.
Apa yang Anda maksud dengan mengutamakan rakyat?
Rakyat menjadi subyek. Kok, mendapat mandat dari rakyat, bukan ngurusin rakyat, malah ngurusin diri sendiri atau orang lain? Negara ini, yang begitu luar biasa sumber daya alam dan sumber daya manusianya, kok tidak bisa menyelesaikan masalahnya dalam waktu begitu lama? Pasti ada yang keliru. Kita harus melakukan perubahan secara mendasar. Kalau cuma tambal sulam, saya tidak yakin.

Bukankah hal itu sudah sering diucapkan calon presiden lain?
Kalau ada putra bangsa yang lebih baik secara konsep, akan kita dukung. Jika ada yang lebih baik, harus kita akui dia lebih baik. Tapi bagaimana mau menguji konsep calon-calon presiden kalau sekarang tidak ada calon lain? Hanya itu-itu saja. Keputusasaan rakyat akan memunculkan anarkisme, dan ini tidak kita inginkan.Sebutkan lima poin saja cara untuk menyejahterakan rakyat…. Kita perlu tatanan, agar output-nya tidak keliru. Kita mau model pembangunan ekonomi yang langsung bersentuhan dengan rakyat. Lalu reposisi TNI, kemudian penataan hukum, rule of law. Juga pendidikan, ini penting karena menciptakan budaya. Lalu jaminan sosial. Orang sejak lahir tidak tahu masa depannya, kan, pusing jadinya? Banyak hal, bukan hanya lima. Saya kira, untuk rinciannya, Mas Saurip akan jauh lebih jelas dan lebih baik daripada saya. Dihambatnya calon-calon yang mampu oleh mekanisme, itu yang tidak benar.

Kabinet seperti apa yang akan Anda bentuk untuk mengatasi krisis?
Saurip Kadi: Intinya, sistem kenegaraan itu harus diubah, dari model sekarang yang masih berkategori otoriter menjadi demokrasi. Tak hanya demokrasi untuk demokrasi, tapi demokrasi untuk kesejahteraan rakyat. Yang terpenting adalah bagaimana membentuk sistem negara ini menuju corporate state. Negara harus berperilaku seperti perusahaan sehingga sumber daya alam, apakah itu batu bara, emas, atau hasil tambang lain, tidak dinikmati oleh pemegang lisensi, tapi dinikmati oleh rakyat melalui perubahan model ekonomi, hukum, pertahanan, bahkan birokrasinya. Birokrasi harus service oriented. Begitu juga kabinetnya harus menjadi kabinet entrepreneur. Dalam sistem presidensial, harusnya yang membentuk kabinet adalah presiden pemenang pemilu. Kabinet yang dibentuk oleh partai atau koalisi partai hanya dikenal di dalam sistem parlementer. Kalau mau bekerja benar, kabinet harus benar dulu. Tidak ada di dunia ini, dalam sistem presidensial, ketua partai mesti menjadi calon presiden. Sistem bisa semrawut.
Deddy: Jantan tidak, betina tidak (tertawa).

Anda siap bersaing dengan calon presiden lain?
Kalau tidak bersaing, bukan demokrasi.

Bagaimana cara menarik simpati pemilih?
Itu nanti akan ditempuh dengan cara dan strategi serta teknik tersendiri.

Bagaimana meyakinkan orang bahwa Anda bukan calon presiden guyonan?
Tidak percaya juga tidak apa-apa. Kami tidak bisa memaksa orang percaya. Kepercayaan tumbuh kalau memang ada harapan. Apa harus memakai jas setiap hari, harus kelihatan pintar, ya, tidak juga. Rakyat menginginkan perubahan sistem. Di Filipina saja, ada ibu rumah tangga menjadi presiden. Cory Aquino apa pinter? Tapi dunia sudah membuktikan, kalau mau, bisa muncul perubahan.

Sudah ada partai yang mendukung?
Jangan tanya-tanya itu dulu….Anda harus mempersiapkan diri dalam waktu sempit, sementara calon presiden lain sudah lama melakukan persiapan…. Negeri ini merdeka tidak disiap-siapin juga. Muncul begitu saja waktu ada momentumnya. Jepang menyerah, Bung Karno diculik oleh pemuda, besoknya proklamasi. Ini kan berproses semua? Masak, kita masih harus menunggu orang lain?

Omong-omong, Anda akan meniru gaya kepemimpinan Nagabonar?
Nagabonar itu kan sebuah keresahan yang terekspresikan. Saat film itu dibuat kan terjadi keresahan masyarakat tentang proses penegakan hukum. Betapa sulitnya kita meninggalkan zona kenyamanan untuk sebuah penegakan hukum. Harus ada korban, minimal diri kita, yang biasa melanggar hukum, tiba-tiba patuh hukum. Kalau ingin membawa perubahan, kita harus mampu mengorbankan ego.

Deddy Mizwar
Lahir : Jakarta, 5 Maret 1955

Pendidikan
- SMP Negeri 10 Jakarta, 1970
- Sekolah Menengah Farmasi, 1974

Karir
- Pemain teater, 1967-1976
- Dinas Kesehatan Pemerintah DKI Jakarta, 1974-1976
- Aktor film, 1976-sekarang
- Sutradara dan produser, 1997-sekarang
- Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional, 2006-2009
- Berkali-kali menerima penghargaan sebagai pemeran pria terbaik dan pemeran pembantu pria terbaik dalam Festival Film Indonesia

02 Maret, 2009

Antara Harapan, Kemiskinan, dan Eksploitasi


Adakah hal seaneh seperti yang terjadi setiap Kamis Pahing malam Jumat Pon di Gunung Kemukus? Di kawasan bukit yang terletak di Sragen, Jawa Tengah, ini ada ratusan bahkan ribuan orang mencari keberuntungan dengan cara aneh, yaitu berhubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya secara sukarela.

Suasana di kawasan ini pada saat-saat itu lebih mirip pasar malam. Kawasan yang pada hari-hari biasa umumnya temaram tiba-tiba menjadi benderang. Ada banyak warung jajanan, ada penjual pernik-pernik, penjual rokok dan kacang rebus hingga orang yang menyewakan bilik atau tikar secara jam-jaman untuk kepentingan short time.

Awalnya legenda

Apa hubungan antara keberuntungan dan syahwat? Awalnya adalah sebuah legenda tentang Oedipus Jawa pada zaman keruntuhan Majapahit akibat menguatnya kerajaan Islam di Jawa Tengah.

Ia seorang pemuda ganteng bernama Pangeran Samodro, putra Raja Brawijaya, penguasa Majapahit. Ia terlibat dalam cinta terlarang dengan ibu tirinya yang juga selir Brawijaya, Nyai Ontrowulan. Meski sudah agak tua, Nyai Ontrowulan masih terlihat sangat menawan.

Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Demak Bintoro guna menikah. Namun, sesampai di tempat tujuan ada banyak duda kaya dan prajurit Demak yang jatuh hati kepada Nyai Ontrowulan. Mereka berupaya menggagalkan pernikahan keduanya.

Pangeran Samodro dan ibu tiri beserta para pengawalnya lantas memutuskan untuk lari ke selatan. Saat berada di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan tak bisa lagi menahan hasrat seksual mereka. Di bawah pohon nagasari, mereka melakukan hubungan seks layaknya suami-istri.

Dasar sial, pasukan Demak Bintoro berhasil menyusul. Keduanya dibunuh pada saat sedang berhubungan seks belum sampai pada puncaknya. Si pangeran dan ibu tirinya lantas dikubur dalam satu lubang. Konon, dalam lubang tempat terbunuhnya mereka itulah muncul sebuah sumber air jernih yang kini disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Air sendang ini dipercaya memiliki multikhasiat dan bisa bikin orang awet muda.

Dalam legenda juga dikisahkan munculnya asap, disusul suara di atas makam Samodro dan Ontrowulan yang baru dikuburkan, ”Wahai manusia, barang siapa mau datang ke tempat ini dan bisa menyelesaikan hubungan seks layaknya suami-istri kami yang belum selesai ini tujuh kali, maka segala permintaan kalian akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung.”

Novel ini mengambil Gunung Kemukus sebagai setting cerita. Ada banyak tokoh dalam cerita ini. Ada Meilan, seorang wartawan keturunan China yang menggerutu saat mendapat penugasan untuk meliput Gunung Kemukus. Ada Sarmin, si pedagang bakso yang kalah wibawa dengan istrinya yang bermimpi kehidupannya bisa kembali seperti zaman sebelum ia nikah dan jualan baksonya kembali laris manis. Ada Badrun, juragan tembakau; ada Romo Drajad, seorang hombreng yang punya pengaruh kuat dan berpendapat bahwa fenomena Kemukus adalah sebuah revolusi kultural.

Ada juga tokoh Wati, istri Sarmin, yang terobsesi bisa kawin dengan si pak guru, Mas Bagus. Ada perempuan kelas menengah paruh baya Sri Wahyuni alias Yuyun yang mengikuti dorongan suaminya untuk ngalap berkah ke Kemukus. Ada Parti, seorang perempuan pelacur yang siap memangsa siapa saja lelaki yang baru pertama kali mencoba datang ngalap berkah.

Ada beberapa karakter tokoh antagonis yang kuat dalam novel ini, tetapi karakter yang paling kuat ada pada diri Wati. Istri Sarmin ini digambarkan sebagai perempuan yang menilai suaminya sebagai lembek, goblok, tak pandai menipu dalam menjalankan dagangan baksonya.

Ia terpaksa menikah dengan Sarmin hanya lantaran niatnya untuk menjebak Mas Bagus dengan mengajaknya berhubungan seks dan kemudian mengaku hamil ketahuan oleh orangtuanya. Ia selalu ragu-ragu antara ingin bercerai dan rasa takut bercerai dalam keadaan miskin.

Cara bertutur dalam novel ini betul-betul lancar. Gaya bahasa juga mengalir. Pada beberapa bagian, di mana si tokoh menjadi orang pertama, seperti halnya saat tokoh Wati ngedumel pada dirinya sendiri (hal 51-60), kita sepertinya diingatkan pada gaya Linus G Suryadi dalam Pengakuan Pariyem. Bedanya, Pariyem adalah seorang perempuan yang pasrah, nrimo, dan menikmati sekaligus memuja Den Bagus-nya. Kalau Wati adalah perempuan yang terobsesi bisa menikah dengan Mas Bagus, tetapi tak pernah kesampaian.

Pengetahuan pengarang yang lengkap mengenai sejumlah permasalahan sosial ikut membungkus buku ini dengan berbagai informasi, antara lain mengenai kehidupan warok dan per-gemblak-annya di Ponorogo dan mengenai penyair Wiji Thukul dan Romo Mangunwijaya. Juga cerita tentang hiruk-pikuk pembangunan Waduk Kedung Ombo. Keberpihakan pengarang pada wong cilik tampak jelas dalam novel itu. Demikian pula dengan pemberontakan terhadap kemapanan, yang tampaknya ditampilkan pengarang melalui tokoh Romo Drajad (hal 124-129).

Gambaran irasionalitas bangsa

Apa kaitan ritual Kemukus dengan kehidupan sehari-hari kita? Barangkali setelah membaca novel ini, kita memang perlu mencari jawabannya. Apalagi, cerita tentang pasangan Samodro dan Ontrowulan di Gunung Kemukus itu terjadi pada abad XIV. Artinya, umur legenda kini mencapai lebih dari 600 tahun.

Namun, fenomena Gunung Kemukus kalau kita lihat bukannya kian menyurut. Bahkan, pada malam 1 Suro 2007 jumlah orang yang datang ke Gunung Kemukus dilaporkan mencapai angka 10.000 orang. Pada malam 1 Suro 28 Desember 2008, angka ini dilaporkan jauh membengkak.

Di Kemukus upaya pencarian berkah, tirakat, penyucian diri perselingkuhan, pembersihan diri, kepuasan seksual, dan prostitusi telah campur aduk dengan kepentingan bisnis. Mulai dari bisnis ritual, bisnis esek-esek, hingga bisnis wisata yang mendatangkan masukan bagi kas pemerintah daerah.

Sebagai gambaran, setiap pengunjung Gunung Kemukus dikenai biaya retribusi sebesar Rp 4.000. Itu belum termasuk tarif parkir untuk kendaraan. Artinya, pada saat malam 1 Suro, di mana dilakukan acara membuka kelambu makam Pangeran Samodro, Pemerintah Kabupaten Sragen minimal akan mengantongi pemasukan pendapatan asli daerah sebesar 10.000 x Rp 4.000 atau sebesar Rp 40 juta. Itu hanya semalam.

Di Indonesia, fenomena orang mencari peruntungan juga bukan monopoli masyarakat kecil yang miskin dan nyaris putus asa. Fenomena Kemukus adalah bagian dari irasionalitas bangsa Indonesia yang sebagian masih meyakini bahwa ”laku” dan ”teknik menjalani kehidupan” jauh lebih penting daripada ilmu pengetahuan, manajemen, dan membangun sistem sosial yang lebih adil.

Pada faktanya kita masih kerap menjumpai ada banyak pejabat yang melakukan tetirah ke makam, pergi konsultasi atau mencari jimat ke dukun untuk mendapatkan atau mempertahankan kedudukan.

Untuk kalangan masyarakat bawah, ritual semacam Kemukus merupakan sarana hiburan sekaligus gambaran dari sebuah budaya perlawanan. Melalui ritual inilah nilai kebebasan untuk menikmati seks juga bisa mereka kecap, bukan hanya hak kaum laki-laki bangsawan saja.

Di Kemukus ini pula sebetulnya kaum perempuan bisa menemukan aktualisasi nilai-nilai jender di mana perempuan punya hak yang sama dengan lelaki, terutama untuk mendapatkan ”pasangan tidur” yang diminati. (Kompas.com)

-----------

Stanley Adi Prasetyo Anggota Komisioner Komnas HAM, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan dan Penikmat Sastra
Klub Bisnis Internet Berorientasi Action