wirausaha online

12 Mei, 2009

Sekolah Wirausaha, Kenapa Tidak??

JAKARTA, KOMPAS.com — Jurang antara jumlah tenaga kerja dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia saat ini semakin lebar. Di bidang pendidikan tinggi, hal tersebut sedikit banyak telah meniupkan paradigma baru tentang kian perlunya kemampuan intelektual individu Indonesia untuk menciptakan bisnis atau wirausaha di segala bidang.



Tahun 2009, pemerintah memperkirakan angka pengangguran akan naik. Karena itu, angka pengangguran akan direvisi menjadi 8,3 atau 8,4 persen. Sebelumnya, pemerintah menargetkan penurunan angka pengangguran tahun ini mencapai 7-8 persen.



Hal itu disampaikan pekan lalu, Minggu (3/5), oleh Deputi Bidang Kemiskinan dan Ketenagakerjaan Bappenas Prasetijono Widjojo di sela-sela Sidang Tahunan Asian Development Bank (ADB) ke-42 di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali.


Menurut Prasetijono, pengangguran tahun ini kemungkinan di atas 8 persen. Tahun lalu, pemerintah menargetkan penurunan angka pengangguran di level 7-8 persen, tetapi besar kemungkinan angka tersebut naik, sekitar 8,3-8,4 persen.


Sulit dimungkiri, masih banyak penduduk Indonesia yang merupakan pengangguran terbuka. Hanya 0.18 persen dari total penduduk Indonesia menjadi wirausahawan. Angka itu sangat jauh tertinggal ketimbang China, yang mencapai dua persen, atau bahkan Singapura dengan jumlah enam sampai tujuh persen.


Tanpa wirausaha, perekonomian Indonesia masih akan terus tersendat untuk maju karena, ketimbang rasio jumlah penduduknya, negara kita akan terus kekurangan lapangan kerja.


Center for Entrepreneurship Development

Salah satu penyebab titik lemah ekonomi Indonesia adalah masih kurangnya jumlah perusahaan formal. Kemandirian pun belum merupakan kata kunci di mata masyararakat untuk memandang kemajuan bangsa ini.


Bisa dilihat, banyak perusahaan yang tumbuh besar saat ini karena diawali dengan model usaha kecil dan menengah (UKM) atau small medium enterprise. Mereka dimotori oleh semangat kewirausahaan yang kokoh sebagai penggerak roda perekonomian yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.


Untuk itulah, pertumbuhan wirausahawan baru yang mampu menciptakan peluang bagi pertumbuhan yang lainnya sangat diperlukan. Melalui Center for Entrepreneurship Development, Prasetiya Mulya Business School (PMBS) berupaya ikut mendorong pengembangan pendidikan kewirausahaan sebagai sumbangan bagi kemajuan dan kemandirian bangsa untuk melahirkan generasi wirausaha yang kuat dan mumpuni.

Hal tersebut dibuktikan oleh PMBS sejak 2005. Setelah bertahun-tahun membuka Program S2 (Magister Manajemen), PMBS pun akhirnya membuka Program S1 Bisnis. Dengan hadirnya program ini, pelajar Indonesia yang ingin mengenal lebih jauh sekolah bisnis tidak perlu pergi ke luar negeri.
Para mahasiswa akan diberi pengetahuan kuat dan juga keterampilan untuk menjawab tantangan di dunia bisnis. Untuk tujuan itu, mereka akan dididik dalam tiga hal, yaitu diberi pengetahuan bisnis yang kuat dan ditransformasikan ke dalam kerangka berpikirnya.Selanjutnya, mahasiswa diberi pengetahuan tentang penanaman karakter berbisnis (entrepreneurship) yang kuat, baik itu keberanian menempuh risiko, analisis, komunikasi, dan kepemimpinan. Terakhir, mahasiswa akan dibekali materi peningkatan kepekaan sosial melalui program dan kegiatan community development.


Semester "Pebisnis"

Sejak mengawali perkuliahan di semester pertama, mahasiswa telah dirangsang untuk mencari peluang bisnis. Di semester ketiga, ide atau berbagai usulan bisnis para mahasiswa tersebut lalu dikompetisikan untuk memperoleh enam kelompok mahasiswa terbaik.


Jangan girang dulu. Kelompok pemenang lalu dipinjami dana oleh sekolah. Di semester empat, dana itu akan mereka gunakan untuk menggerakkan sebuah usaha atau bisnis.


Ya, para mahasiswa akan melakoni tugas itu laiknya para pebisnis profesional. Semua mereka kerjakan dari nol, mulai dari sisi model pengelolaan bisnisnya, manajemen pemasarannya, hingga pengelolaan sumber daya manusianya (SDM).

Kritis dan obyektif. Pada tiga minggu sekali, para "pebisnis" juga harus melaporkan perkembangan bisnisnya di hadapan para staf pengajar, yang dalam hal ini bertindak sebagai "Dewan Direksi".


Kiranya, pola pendidikan semacam itu cukup menarik dijadikan kesempatan bagi para mahasiswa menempa diri sebagai wirausahawan. Dilandasi semangat dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, para mahasiswa juga tidak semata akan mengenal dunia bisnis. Namun, PMBS juga akan mewajibkan mereka bekerja di lembaga-lembaga atau yayasan sosial, seperti panti jompo, panti asuhan, dan instansi.


Selain itu, mahasiswa juga akan diterjunkan ke desa-desa. Mereka turun langsung bersama ke tengah-tengah masyarakat. Tugas utama mereka di sini adalah membantu menciptakan bisnis bagi masyarakat setempat.
Dengan model proses belajar-mengajar semacam itu, PMBS tentu bukan bermaksud hanya mencetak calon-calon pebisnis Indonesia yang tangguh, melainkan juga berjiwa sosial tinggi.
sumber : http://www.kompas.com/

RANI

Minggu, 10 Mei 2009 00:39 WIB
Putu Setia

Saya tidak sedang menulis Rani, atau nama lengkap di kartu tanda penduduknya, Rhani Juliani. Mantan caddy golf yang menjadi wanita terpopuler saat ini karena kasus pembunuhan Nasrudin itu tidak saya kenal. Bagaimana saya menulis orang-orang yang tidak saya kenal?

Tapi saya mengenal beberapa orang yang dipanggil akrab Rani. Dari penulis fiksi, penyanyi, aktivis pers kampus, tentu dengan nama lengkap yang berbeda. Salah satunya adalah Sutirani, gadis asal Temanggung, bekas tetangga saya sewaktu saya tinggal di Sidoarum, Godean, Yogyakarta.

Rani Temanggung ini, begitu tamat SMA, tidak melanjutkan sekolah karena tak ada biaya, barangkali mirip Rani Tangerang di awal-awalnya. Ia ikut bude-nya ke Yogya, kursus memijat beberapa hari, lalu menjadi gadis pemijat di sebuah "panti pijat tradisional". Tak sampai sebulan ia bertahan, banyak hal yang ia keluhkan kepada saya. Belakangan, saya dengar dia menjadi pramuria--sebutan keren pelayan--di toko Sami Jaya, kawasan Malioboro. Entah sekarang.

Kenapa saya sering ingat Rani? Ia pernah berkeluh, seorang pria setengah tua suatu hari menjadi "pasiennya". Setelah waktu habis, Rani mengingatkan pijatan sudah selesai. Pria itu setengah marah membentak: "Mana tradisionalnya?" Rani mulanya kaget, apa yang dimaksudkan "tradisional" itu. Syukur, pria itu hanya marah, lalu keluar.

Belakangan, banyak pria yang terus menggoda: "Dik, jangan lupa tradisionalnya, ya?" Atau kalimat ini: "Kalau pakai tradisional, tambah berapa?" Lama-lama Rani tahu apa yang dimaksudkan: berbuat mesum. Ia punya jurus menolak, dan teknik penolakan itulah yang membuat saya kagum, sekaligus sering ingat dia. Ia hanya mengatakan begini: "Bapak kan sudah berumur, mungkin Bapak punya anak gadis seusia saya. Kalau anak gadis Bapak dibegitukan, apa Bapak tega?" Teknik ini mempan, tapi Rani memutuskan tak lagi bekerja di panti pijat berembel tradisional itu.

Jurus ini sering saya kutip kalau saya lagi berceloteh soal moral di berbagai kesempatan. Malah saya kembangkan. Misalnya, bagaimana menghindari perselingkuhan? Saya katakan: "Ketika Anda sedang berniat untuk berselingkuh dengan wanita idaman lain, cobalah merenung satu menit, bagaimana kalau istri Anda juga melakukan hal yang sama dengan pria idaman lainnya. Apakah Anda senang?"

Jika jurus itu tak mempan, coba lagi merenung satu menit, dan sebut nama Tuhan. Tak satu pun agama membenarkan perselingkuhan dan perzinaan. Surga ada di telapak kaki ibu, dan ibu itu adalah wanita, janganlah wanita dilecehkan. Ada kitab suci yang jelas menyebutkan: "di mana wanita dihina dan diperlakukan tak semestinya, di sana kekacauan akan muncul".

Jika nama Tuhan sudah disebut dan Anda tetap berselingkuh, itu artinya setan lebih banyak di sekeliling Anda. Ini pun termasuk "skenario" Tuhan, mereka yang lemah akan dijadikan alat untuk memberi kesempatan bagi orang lain bekerja dengan baik. Kalau penjahat tidak ada, polisi tak ada kerjaan. Kalau koruptor tak ada, Komisi Pemberantasan Korupsi tak dibentuk. Sekarang Anda memilih, yang baik atau yang buruk?

Saya tak menyindir bahwa kasus Rani-Nasrudin-Antasari diawali dengan pelecehan seorang wanita, karena "sinetron" ini masih berlanjut. Saya juga tak mau mengulangi petuah yang sudah klise agar pemimpin berhati-hati terhadap 3 TA: takhta, harta, dan wanita. Saya hanya ingin mengatakan: wahai kaum pria, hormatilah wanita.

Sesekali menulis tentang moral, bolehlah. Suasananya masih merayakan Waisak, hari penuh kedamaian. Selamat bagi yang merayakannya.
Sumber : www.tempointeraktif.com
Klub Bisnis Internet Berorientasi Action